Skip to content

Pluralisme >< Fundamentalisme

January 10, 2010

Kontributor: Heru Alfyanto Malay

Jika dalam catatan sebelumnya saya bahas tentang pluralisme, maka di catatan ini saya tampilkan ‘lawan’ nya yaitu fundamentalisme. Apa itu fundamentalisme?

Ada banyak sekali definisi fundamentalisme, salah satunya dari Oxford Dict yaitu strict following of the basic of any religion.

Definisi tersebut tidak secara khusus menunjuk agama tertentu, karena dalam kenyataannya fundamentalisme ada di banyak agama. Istilah itu sendiri awalnya berkembang dalam masyarakat Eropa yang mayoritas non-muslim. Tapi mengapa saat ini pandangan mata dan telunjuk masyarakat dunia terarah ke kaum muslimin saat membicarakan fundamentalisme? Bahkan lebih dari itu, menyamakan fundamentalisme dengan terorisme. Itulah keberhasilan fitnah keji Amerika dan sekutunya, sehingga seorang “Muslim Fundamentalis” identik dengan teroris !

Mengacu kepada definisi fundamentalisme di atas, maka seorang muslim fundamentalis akan melaksanakan ajaran agamanya secara lurus berdasarkan prinsip dasar ajaran Islam. Tidak aneh-aneh, tidak mengada-ada, hanya berpegang teguh kepada dasar ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits

Catatan : Istilah muslim fundamentalis hanya saya gunakan di catatan ini, sekedar untuk memudahkan pembaca membedakannya dengan kaum Pluralis Liberalis. Dalam kenyataannya, Islam tidak mengenal istilah ini. Hanya ada satu Islam !

Apakah itu berarti Islam menutup pintu terhadap penggunaan akal dalam beragama?

Tentu saja tidak. Al Quran menantang manusia untuk menggunakan akal agar dapat memahami kekuasaan Allah. Tapi akal manusia terbatas, ilmu yang dmilikinya juga terbatas, tidak sebanding dengan Allah yang Maha Berilmu. Ayat-ayat Al Quran saja banyak yang baru dapat difahami berabad-abad setelah diturunkannya, setelah ilmu pengetahuan mampu mencapainya. Dan masih banyak lagi yang beum terungkap, menunggu manusia berpikir dan berusaha untuk memahaminya. Maka sangat aneh jika ada seorang yang mengaku muslim menuhankan akalnya, dan menganggap Al Quran tidak sempurna, hanya karena belum dapat memahaminya.

Apakah Fundamentalisme itu sama dengan Terorisme?

Tentu saja tidak. Seorang Fundamentalis tentu faham bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Islam juga mengajarkan kasih sayang dengan sesama. Tidak ada ajaran teror dalam Islam. Ayat-ayat yang memerintahkan berperang mesti difahami secara utuh, tidak sepotong-sepotong, mesti dilihat juga ayat sebelum dan sesudahnya, serta asbabun nuzulnya (sebab turunnya ayat tersebut). Hanya fitnah dari musuh-musuh Islam lah yang memutarbalikkan kenyataan tersebut. Sayangnya, sebagian muslim ikut termakan fitnah tersebut, sehingga merasa perlu untuk merevisi ajaran Islam. Naudzubillah… Itulah kaum yang menamakan diri mereka Islam Liberal.

Liberalis tersebut dalam banyak kesempatan juga mengkampanyekan Pluralisme, yang mereka percayai sebagai solusi bagi terciptanya perdamaian antar umat beragama. Ada banyak definisi tentang Pluralisme, tapi yang saya pakai adalah yang tertera dalam fatwa MUI tentang haramnya Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme. Mengapa definisi ini yang saya pakai? Karena definisi inilah yang bermasalah dan menjadi pertentangan antara kaum Pluralis dengan Fundamentalis. Jika yang dimaksud dengan Pluralisme sebatas pengakuan dan perlindungan terhadap kemajemukan, maka tentu tidak ada masalah karena selaras dengan ajaran Islam

Contoh kasus pertentangan antara kaum Pluralis Liberalis dengan kaum Fundamentalis adalah masalah Ahmadiyah. Kaum Pluralis Liberalis membela Ahmadiyah dan ingin menjamin kebebasan hidup faham Ahmadiyah tersebut. Sementara Fundamentalis Islam menginginkan satu diantara dua hal; 1) pengikut Ahmadiyah bertobat, meninggalkan ajaran tersebut dan kembali kepada dasar ajaran Islam, atau 2) Memproklamirkan Ahmadiyah sebagai agama baru yang tidak ada kaitannya dengan Islam

Jadi fundamentalis Islam tidak memaksa pengikut Ahmadiyah untuk beriman sesuai keyakinan mereka, tapi memberikan alternatif. Jika pengikut Ahmadiyah tetap berkeras untuk meng-klaim sebagai muslim, tapi tetap menjalankan ajaran Ahmadiyah yang banyak menyimpang dari ajaran Islam, maka itulah yang dilarang ! Salahkah kaum fundamentalis?

Jika anda mengaku anggota Pramuka, tapi tidak mengakui Robert Baden-Powell sebagai Bapak Pramuka (Kepanduan) Dunia, atau mengganti lambang tunas kelapa dengan pohon pisang atau lainnya, mungkinkah organisasi Pramuka dan Kepanduan Dunia akan membiarkan saja? Anda akan dibiarkan hanya jika mendirikan organisasi tersendiri, yang terlepas sama sekali dari Kepanduan Dunia, tidak menggunakan atributnya apalagi mengaku sebagai bagian dari Kepanduan tersebut. Jika anda ngotot mengaku sebagai anggota Pramuka, maka pastilah anda dituntut untuk menaati segala peraturan dan kelaziman yang berlaku di organisasi tersebut.

Setiap komunitas, formal maupun informal pastinya punya aturan dan kelaziman yang harus ditaati oleh anggotanya. Jika tidak, maka silahkan keluar dari komunitas tersebut. Jika sudah jelas berbeda, mengapa harus disama-samakan? Sederhana saja bukan? 

Terjadinya aksi kekerasan oleh fundamentalis Islam bukanlah disebabkan oleh ajaran Islam. Ada banyak faktor penyebabnya. Provokasi ‘lawan’, ketidakmampuan menahan emosi si fundamentalis sendiri (yang mungkin disebabkan kurangnya ilmu), hingga ketidaktegasan aparat selaku pengayom masyarakat. Tidaklah adil menilai fundamentalis Islam secara keseluruhan sebagai pelaku teror (teroris) dari ulah beberapa oknum anggotanya. Nilailah dari prinsip ajarannya. Sekali lagi, Islam tidak mengajarkan teror tetapi sebaliknya kedamaian. Itulah yang seharusnya dilaksanakan oleh setiap fundamentalis Islam. 

Jadi, dimanakah kesalahan “Fundamentalisme Islam”? Masih perlukah mengikuti ajaran “Pluralisme”?

2 Comments leave one →
  1. wisnu kucing permalink
    January 11, 2010 3:38 am

    saya cuma mua mengucapkan beberapa pendapat yang saya pikir selaras dengan pendapat saya tentang pertentangan ini:

    1. Al-tanzil adalah teks Ketuhanan yang telah diberikan kepada Muhammad. Dan, seperti semua Muslim, saya secara pribadi berkewajiban untuk memahami warisan ini dan melaksanakan perintahnya, seolah-olah Muhammad telah meninggal kemarin. Hal ini disebutkan secara jelas di dalam teks dengan ratusan referensi, seperti “Wahai, manusia,” “Wahai, keturunan Adam,” “Wahai, para penyembahku,” “Wahai, orang-orang yang beriman.”
    2. Al-tanzil ditujukan untuk seluruh umat manusia, dan bukan hanya untuk bangsa Arab, dan memiliki kemampuan untuk cocok dengan kebudayaan manusia yang manapun, pada tingkat perkembangan apapun.
    3. Dengan pengecualian al-tanzil, maka semua teks dan literatur agama adalah tidak lain daripada sebuah warisan, yang mewakili pemahaman manusia mengenai wahyu Tuhan di dalam kondisi waktu dan tempat dari lahirnya pemahaman manusia tersebut. Kondisi waktu dan tempat ini juga bergantung kepada posisi dan cara dari pengetahuan ilmiah.
    4. Al-tanzil tidak perlu dipahami melalui aturan-aturan penerjemahan yang kaku, yang dibangun sepuluh abad yang lalu. Tak pelak lagi, terdapat aturan-aturan yang berlaku menurut akal sehat, seperti pengetahuan bahasa Arab, di dalam rangka membaca teks berbahasa Arab.
    5. Menolak warisan tradisional, yang saya tidak percaya dapat memberikan sebuah pemahaman yang tepat mengenai pesan Ketuhanan, setidak-tidaknya sekarang ini, tidak berarti bahwa kaum Muslim harus merasa malu karena sejarah dan identitas mereka sendiri. Warisan kita adalah akar kita, sejarah kita adalah identitas kita; dan para pendahulu kita adalah nenek moyang kita. Saya hanya membantah bahwa kita tidak perlu meminjam ‘kacamata yang lain untuk melihat realitas kita sendiri’, atau untuk memecahkan permasalahan kita yang sekarang.

    Melihat kaum fundamentalisme Islam menurut saya tidak merupakan sebuah kesalahan. Itu adalah pendapat mereka tentang bagaimana menjalankan ajaran Islam, sebagaimana saya melihat Islam saya dengan 5 prinsip diatas. Selama tidak ada pemaksaan terhadap cara saya memandang agama saya, saya baik-baik saja. Tapi yang sering saya temui dulu di kampus adalah teriakan “AllahuAkbar” sambil menunjuk muka saya dan hujatan Kafir… ini yang saya lawan.

  2. Heru A. Malay permalink
    January 11, 2010 5:01 am

    Sama seperti postingan sebelumnya, catatan ini juga saya tampilkan di FB saya. Link-nya: http://www.facebook.com/notes/heru-malay/pluralisme-fundamentalisme/236620463950

    Teman-teman yang ingin menanggapi dan berdiskusi ala warung kopi bisa melakukannya di sana.

    Buat om Wisnu, terima kasih komentarnya. Sama seperti komentar anda di postingan sebelumnya, saya tidak merasa ada pertentangan pendapat di antara kita. Kalaupun anda merasa berbeda pendapat, saya tidak akan seperti orang-orang yang anda temukan dulu di kampus. Saya tidak akan menunjuk muka anda sambil menghujat kafir. Bukan hanya karena anda teman saya, tapi lebih dari itu, seorang “muslim fundamentalis” memang tidak akan melakukan hal itu karena dilarang agama🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: