Skip to content

Ulasan Ringan tentang Pluralisme

January 9, 2010

Kontributor: Heru Alfyanto Malay

Gus Dur telah meninggal, tetapi kepergiannya justru mengangkat kembali popularitasnya yang semakin melorot beberapa tahun terakhir ini. Mirip dengan Michael Jackson. Entah fenomena apa ini, yang pasti pers memegang peranan untuk mem-blow up kematian mereka. Tidak mustahil memang ada pihak yang berkepentingan untuk menarik keuntungan dari ‘kebesaran’ kedua tokoh tersebut. Album Jacko meledak kembali dan menghasilkan jutaan US Dollar yang pastinya tidak dinikmati sang superstar. Sedangkan nama Gus Dur di-“jual” banyak pihak untuk menarik dukungan massa, yang belum tentu sesuai dengan keinginan beliau. Salah satu yang paling banyak digembar-gemborkan adalah “Gus Dur Bapak Pluralisme”. Catatan ini memang bukan membahas kehidupan pribadi Gus Dur, karena membicarakan orang yang sudah meninggal, apalagi keburukannya terlarang bagi seorang muslim. Yang akan dikritisi (secara ringan) di sini adalah pemikiran beliau, karena pemikiran tersebut tetap hidup, bahkan makin mendapat tempat di tengah euforia pendukung dan pemuja Gus Dur belakangan ini.

Apa itu Pluralisme?

MUI mendefinisikan Pluralisme sebagai suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga. MUI pun telah mengeluarkan fatwa bahwa Pluralisme (bersama-sama dengan Liberalisme dan Sekularisme Agama) adalah sesat.

Saya tidak semata-mata mengangkat fatwa MUI di atas, karena kalangan sekularis liberalis pasti menolaknya. Tapi saya tahu kalangan ini ‘menuhankan’ akal mereka, sehingga saya coba dekati dengan pendekatan akal pula. Lagi pula ini hanya ulasan ringan, terlalu berat jika harus perang ayat dan mengutip dalil-dalil dari Al Quran dan Al Hadits.

Setiap manusia yang mengaku beragama Islam, pastilah pernah mengucapkan dua kalimat syahadat yang berarti menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Tiada Tuhan selain Allah artinya Islam itu monotheis, hanya mengakui satu Tuhan. Jika Islam yang monotheis itu disamakan dengan agama lain yang mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Tiga di dalam Satu (Trinitas) atau sebaliknya Satu di dalam Tiga (Trimurti) atau ajaran lain lagi yang tidak menuhankan siapa-siapa tapi hanya mengajarkan akhlaq mulia, maka sungguh hanya akal segelintir orang saja yang bisa menerima penjelasan rumit tersebut. Samakah satu dengan tiga? Samakah satu dengan nol (tiada)? Itu baru satu persoalan tentang jumlah bilangan Tuhan. Belum lagi ajaran tentang kehidupan di alam selanjutnya. Islam mengajarkan akan adanya kehidupan yang abadi setelah kematian. Setiap makhluk akan dibangkitkan kembali dengan keadaan yang berbeda-beda, antara lain tergantung amalnya di dunia. Seorang yang shaleh tentu berbeda dengan seorang pendosa. Agama lain ada yang mengajarkan bahwa sudah ada penebusan dosa bagi mereka yang beriman dengan agama tersebut. Jadi tidak perlu khawatir lagi berbuat dosa di dunia, toh nanti akan terbebas dari tanggung jawab karena sudah ada yang menebus. Agama yang lain tidak mengajarkan kehidupan abadi di alam akhirat tersebut, tapi mengajarkan adanya reinkarnasi. Jadi kita akan hidup kembali dalam sosok yang berbeda di masa yang akan datang, tapi kehidupan tersebut tetaplah di dunia yang fana ini. Agama yang lain lagi mengajarkan yang lain pula. Masih banyak ajaran-ajaran yang berbeda di setiap agama. Perbedaannya sangat fundamental.

Jadi bagaimana mungkin menyamakan setiap agama? Kalaupun ada yang sama, tentu tidak berarti semua agama bisa disamakan. Lelaki dan Perempuan itu berbeda, meskipun sama-sama manusia, sama-sama berjalan dengan dua kaki, sama-sama berfikir dengan otaknya, merasa dengan hatinya, melihat dengan matanya, dst. Seorang lelaki bisa sangat marah jika dikatakan mirip perempuan (demikian sebaliknya), tidak mau disama-samakan. Itu sederhana sekali, sangat mudah dimengerti bahkan oleh orang yang tidak berpendidikan tinggi, bukan ? Kalau pun ada klaim dari para pluralis bahwa faham pluralisme adalah jalan menuju perdamaian dunia, sudahkah itu terbukti? Pluralis menuduh bahwa klaim sepihak dari masing-masing agama bahwa agamanya lah yang benar merupakan penyebab pertikaian di dunia, benarkah demikian? Sejak Adam as turun ke Bumi dan memiliki keturunan, pertikaian bahkan pertumpahan darah sudah terjadi. Lupakah anda kisah Habil dan Qabil? Apakah pertumpahan darah tersebut disebabkan faktor perbedaan agama? Kemudian terjadinya kolonialisme dunia ke tiga oleh bangsa-bangsa Eropa, apakah disebabkan faktor agama? Lalu Perang Dunia I dan II apakah karena agama? Juga pertikaian dan peperangan yang terjadi saat ini apakah faktor agama? Kalau lah Pluralis, Sekularis dan Liberalis mau jujur menelusuri akar penyebab semua pertikaian di Bumi sejak jaman Adam as hingga saat ini, maka saya yakin kita akan bersepakat bahwa penyebabnya adalah faktor keserakahan manusia semata! Keserakahan akan harta, tahta dan wanita. Mungkinkah ummat beragama hidup rukun berdampingan jika masing-masing mengklaim kebenaran agamanya? Sangat mungkin! Jika muslim meng-klaim Islam sebagai agama yang benar, sedangkan pemeluk agama yang lain juga menyatakan agamanya lah yang benar, apakah itu berarti semuanya benar? Saya jawab: Tidak! Kalau demikian, bagaimana bisa damai?

Kebenaran masing-masing agama harus diyakini oleh pemeluknya, tanpa memaksakan kebenaran tersebut untuk diyakini juga oleh pemeluk agama lain. Untuk mu agama mu, untuk ku agama ku. Jika tidak ada pihak yang mencampuri urusan agama lain, maka tidak akan timbul konflik. Sederhana saja bukan? Lalu apakah dengan demikian masing-masing ummat menjadi ekslusif? Dalam soal aqidah (keimanan) dan ibadah ya, tapi dalam hal muamalah (hubungan kemasyarakatan) tidak. Kita bisa bertetangga dengan baik tanpa membicarakan soal ke-Tuhan-an, tanpa ikut ke tempat peribadatan agama lain, dan tanpa ikut merayakan hari besar keagamaan lain. Kita bisa membicarakan dan melakukan banyak hal bersama-sama, karena urusan duniawi demikian banyak dan kompleksnya. Kita sama-sama butuh makan dan kebutuhan pokok lainnya, sama-sama butuh istirahat/hiburan, dan banyak lainnya.

Seorang fundamentalis tetap dapat menjadi seorang humanis. Indonesia adalah contoh yang baik untuk kerukunan umat beragama. PBB dan banyak organisasi dunia lainnya sudah menyampaikan pujian untuk ‘prestasi’ ini. Lihatlah sejak berabad-abad yang lalu orang batak (Tapanuli) sangat rukun dengan sesamanya meski berbeda agama. Tidak hanya di kampung asalnya, mereka tetap rukun saat jauh di rantau. Maluku juga damai tenteram sejak dahulu, dan baru berdarah-darah beberapa tahun yang lalu (justru saat faham pluralisme mulai populer). Kalau ingin melihat langsung bagaimana kerukunan antar ummat beragama terjadi secara nyata di Indonesia, datanglah ke kota Jakarta yang merupakan miniatur Indonesia. Semua suku dan semua agama ada di sini. Mereka bekerja bersama, sekolah bersama, membersihkan dan menjaga lingkungan tempat tinggalnya bersama, tapi beribadah di tempat yang berbeda. Apakah itu terjadi karena faham pluralisme? Semoga kaum pluralis tidak ke-GR-an untuk mengklaim demikian :-))

4 Comments leave one →
  1. wisnu kucing permalink
    January 9, 2010 4:24 pm

    Saya cuma mau sedikit mengkritisi tulisan saudara Heru, ada beberapa substansi yang kontradiktif dan gak nyambung menurut saya. Yang pertama untuk definisi Pluralisme, disini Heru mencoba menggunakan definisi Pluralisme versi MUI yang saya gak tahu mereka ambil definisi itu dari kamus mana dan kaidah bahasa yang mana sehingga menyesatkan secara berpikir. Pluralisme berasal dari kata bahasa inggris Pluralism yang definisinya yakni: (saya copy paste langsung dari sumbernya)

    1. The condition of being multiple or plural.
    2.
    a. A condition in which numerous distinct ethnic, religious, or cultural groups are present and tolerated within a society.
    b. The belief that such a condition is desirable or socially beneficial. Landasan filosofinya yakni:
    The doctrine that reality is composed of many ultimate substances.

    Jadi penyamaan segala sesuatu dan penyeragaman itu justru lawan dari pluralisme, karena kemajemukan adalah inti dari faham ini. Penghargaan terhadap perbedaan dan sudut pandang dalam melihat substansi adalah dasar dari faham ini.

    Saya pikir saya sepakat dengan beberapa hal dalam tulisan anda masalah agama adalah sebuah kebenaran mutlak bagi pemeluknya, ya… itu pasti. Dan kita juga harus menghormati pendapat orang akan agamanya… ya… itu wajib… Tidak usah memberi contoh antar agama yang berbeda, dalam Islam saja kita dihadapkan dengan kenyataan berbagai macam perbedaan yang harus kita hormati. Pluralisme menjunjung tinggi itu… Saya tidak tahu bagian dari faham pluralisme mana yang anda tentang? Kalau yang diperjuangkan selama ini oleh kaum pluralis adalah kesetaraan bukan berarti itu menyamaratakan agama…

    Kesetaraan adalah perlakuan yang adil terhadap semua golongan masyarakat. Tidak ada satu golongan yang berdiri lebih tinggi di negara ini dihadapan golongan lain… Agama satu dihadapan agama lain… Kelakuan segelintir orang yang tanpa pengadilan menghakimi golongan lain itulah yang kami tentang… kalau anda orang Islam lalu bukan berarti anda berhak pawai membawa golok keliling jalan raya dan merazia pelacur dan menggunduli mereka. Bukankah dalam Islam dilarang menghakimi sesuatu tanpa pengadilan?

    Untuk beberapa contoh yang anda sebutkan saya pikir anda perlu membaca beberapa buku sejarah untuk melihat fakta, contohnya kalimat ini:

    “Lihatlah sejak berabad-abad yang lalu orang batak (Tapanuli) sangat rukun dengan sesamanya meski berbeda agama. Tidak hanya di kampung asalnya, mereka tetap rukun saat jauh di rantau.”

    Hal ini tidak tepat. Pada perang Paderi, terjadi pembantaian besar besaran suku Batak yang dilakukan oleh kaum Paderi. Kaum Paderi ini bukan hanya dari Sumatera Barat tapi juga beberapa tokoh Batak sendiri seperti Tuanku Rao atau Tuanku Lelo. Pada perang ini kaum Paderi membantai ribuan orang batak yang tidak sepaham dengan paham Wahabi yang mereka anut. Hampir semua kampung sepanjang pesisir barat pantai batak, mulai dari Mandailing Natal sampai Tapanuli terjadi pembantaian besar2an… bukan hanya pembantaian massal tapi juga perkosaan massal dan perdagangan budak… Pembantaian dan perdagangan budak ini dipimpin oleh sang Pahlawan Nasional kita Hamonangan Harahap alias Haji Muhammad Saleh bin Imam Maulana Kadhi bin Haji Ibrahim Sutan Malenggang, alias Tuanku Tambusai. Selain itu juga ada Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao, Idris Nasution gelar Tuanku Lelo, Jatenggar Siregar gelar Tuanku Ali Sakti.

    Pembantaian yang terkenal sadis adalah pembantaian Marga Babiat di Simanabun, daerah perbukitan di Dolok. Kisah pembantaian ini tertulis dalam arsip2 kuno Batak dan Syair2, setiap orang tua2 dan juru cerita di kampung-kampung akan selalu bercerita dengan ratap tangis bagaimana tanah mereka dicabik-cabik oleh perang yang sadis dan biadab. (Untuk sumbernya anda bisa baca buku Greget Tuanku Rao karya Basyral Hamidi Harahap).

    Jadi intinya mungkin sebagai penganut pluralisme saya sangat setuju dengan beberapa poin yang anda sebutkan dan itulah intinya Pluralisme sebagai penghargaan terhadap KERAGAMAN dan bukan PENYAMAAN terhadap semua ajaran agama.

    Terima kasih, mohon maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan, maklum suka sembarangan nih yang namanya kucing kalo ngomong hehehehehe…

    Wasalam,
    Wisnu Kucing

  2. abinabilah permalink
    January 9, 2010 5:02 pm

    Shaddaqta ‘ala ma’lumatika ya akhi.

    Kedamaian tetap dapat dicapai dengan menjaga hubungan baik antara sesama manusia (hubungan “horisontal”) dalam semua segi kehidupan kecuali keyakinan agama (Akidah). Walaupun agama/keyakinan berbeda, tetapi hubungan sosial, ekonomi, kekeluargaan, kerjasama, bisnis, bertetangga, dll, tetap dapat dijaga dg baik.

    Kerukunan-kedamaian-kasih sayang dapat diterapkan tanpa memandang agama, ras, maupun suku, sedangkan keyakinan Tuhan dlm agamanya itu adalah domain pribadi dan “vertikal”, bukan horisontal, jadi tidak akan menimbulkan perpecahan dan peperangan, krn menjalankannya juga masing-masing.

    Jadi agama/keyakinan tidak perlu harus dicampur dan disamakan seperti paham PLURALISME, karena memang masing-masing Agama tidaklah sama.

  3. wisnu kucing permalink
    January 10, 2010 1:11 am

    sekedar referensi atau bahan bacaan dari ulama yang saya kagumi:

    Mendudukkan Pluralisme Agama
    Oleh Ahmad Syafii Maarif

    Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Republika, 17 Maret 2009

    Beberapa waktu yang lalu MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya pluralisme agama di samping sekularisme, dan liberalisme. Fatwa itu telah memicu gelombang prokon (pro-kontra) dengan argumen masing-masing, tetapi sejauh pengetahuan saya, belum ada kajian yang mendalam dan meluas tentang isme-isme itu jika dilihat dari pandangan Islam. Cendekiawan muda NU Abd. Moqsith Ghazali dengan karyanya yang berjudul Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an (Jakarta: KataKita, 2009, 401 halaman) telah mengurai masalah pluralisme agama sebagai salah satu isu yang diharamkan itu melalui pendekatan akademik yang imbang. Terbukalah peluang sekarang bagi siapa saja yang ingin melihat masalah ini dengan kaca mata yang lebih jernih tanpa emosi untuk membedah tesis-tesis Moqsith ini. Para mufti MUI saya anjurkan agar tidak ketinggalan pula menelaah karya Moqsith ini dengan hati dan otak yang terbuka. Adapun hasil telaah itu nanti bisa saja menguatkan tingkat keharamannya atau bisa juga menjurus kepada pencabutan fatwa yang telah dikeluarkan itu.

    Pada ranah pemikiran Islam kontemporer bagi Indonesia, iklimnya sudah semakin kondusif untuk bertukar pendapat, demi mencari kebenaran, bukan mencari yang lain. Gelombang kebangkitan kaum intelektual muda Muslim dengan berbagai latar belakang sub-kultur sedang semakin membesar. Fenomena ini sungguh sangat membesarkan hati. Peran pesantren plus IAIN/UIN bagi kelahiran anak-anak muda pemikir ini sangat sentral. Mereka tidak hanya sibuk dengan kitab kuning, tetapi sekaligus menguasai kitab putih, baik yang ditulis oleh Muslim atau non-Muslim. Dr. Abd. Moqsith Ghazali adalah salah seorang di antara mereka yang berani berfikir bebas secara bertanggung jawab, baik dilihat dari sisi iman, maupun dari sisi disiplin ilmu.

    Adapun misalnya temuan mereka ini bercanggah dengan pendapat yang telah dinilai mapan jangan cepat-cepat dihukum dengan ekskomunikasi. Jalan terbaik adalah dengan mengikuti sumber bacaan mereka, baik yang ditulis dalam bahasa Arab atau bahasa asing lainnya. Dan akan lebih bijak lagi, jika penafsiran terhadap sumber-sumber itu saling berlawanan, solusinya mudah sekali, yaitu diadakan dialog yang serius dan jujur antara para pihak yang bersangkutan. Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata “sesat, agen zionis, agen Barat” bukanlah cara kaum yang beradab. Mari kita sama lepaskan prasangka lebih dulu, lalu kita adu argumen dengan menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan utama dan pertama. Lalu kita gunakan sumber-sumber lain, baik yang ditulis oleh ulama klasik maupun yang kontemporer sebagai pelengkap rujukan. Karya-karya klasik umumnya ditulis dalam bahasa Arab, sedikit dalam bahasa Persi. Sedangkan bahasa yang digunakan dalam karya-karya modern jauh lebih kaya: Arab, Urdu, Turki, Persi, Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, sedikit Itali, Spanyol, Rusia, dan lain-lain.

    Karya Argumen Pluralisme Agama telah mencoba membongkar sumber-sumber klasik dan modern dalam berbagai bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia. Dalam endorsemennya K.H. A. Mustofa Bisri atas karya Moqsith ini, kita baca sebagai apresiasi sebagai berikut:

    Buku ini tak sekadar wacana dan pernyataan karena kobaran ghirah keberagamaan atau semangat pembaruan; tapi seperti yang akan segera pembaca ketahui, merupakan hasil kerja keras penelitian. Penelitian secara ilmiah tentang sesuatu yang sebenarnya atau seharusnya bukan menjadi masalah. Tapi bagi mereka yang menjadikan kamapanan sebagai mazhab, mungkin buku yang ditulis Muslim muda, Abd. Moqsith Ghazali, ini
    dianggap baru bahkan mengagetkan.

    Bagi saya karya ini adalah sebuah kegigihan akademik yang bernilai tinggi dan pasti punya jangkauan jauh.

    Akhirnya saya belum perlu mengupas kandungannya, tetapi ingin mengimbau para pembaca untuk mengikutinya sendiri, kemudian beri penilaian secara jujur, kritikal, dan obyektif. Jika ada pihak yang sangat keberatan dengan tesis-tesis utama pengarangnya, tulislah pula karya lain untuk membantahnya. Kemudian publik diberi kesempatan luas untuk membandingkannya. Saya merindukan lahirnya sebuah iklim intelektual kelas tinggi di kalangan umat Islam Indonesia, di mana peradaban otak dan hati dapat mengalahkan “peradaban” otot dan teriakan kasar!

  4. Heru A. Malay permalink
    January 10, 2010 5:31 am

    Buat teman-teman yang berminat untuk berdiskusi/tukar pikiran tentang tulisan saya di atas, bisa berkunjung ke http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=235952668950#/note.php?note_id=235952668950

    Rasanya di FB lebih enak buat ngobrol, baik serius maupun santai ala warung kopi. Buat sahabatku Wisnu Kucing dan Idris, terima kasih atas komennya. Kalo nggak keberatan bisa copy paste ke link di atas, nanti kita lanjutkan diskusinya di sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: