Skip to content

[Cerpen] Pilihan Cinta – Bagian 2

January 8, 2010
tags: ,

Bagian-1 dapat dibaca di: 

https://smasa96jember.wordpress.com/2010/01/08/cerpen-pilihan-cinta-bagian-1/

***

Seperti berjalan di titian setipis rambut, Fatih merasakan pikirannya terombang-ambing tak menentu. Hatinya bergemuruh dan ingin meledakkan desakan hati yang telah tersimpan rapi oleh keimanan pada_Nya. Ingin rasanya ia teriakkk…tapi…hanya lirih dan tetes air mata yang menyertai  pengaduannya pada Rabb..satu-satunya Rabb…

“Ya Allah, ampunkanlah segala kekhilafan hamba-Mu ini. Hamba telah berbulat hati untuk meneruskan proses melalui biodata ini, tetapi … “, dengan bersujud ia meneruskan curhatnya pd Allah.

Rintik hujan pun turun seakan mengiringi mendung di hati Fatih. Pagi belum juga menunjukkan wajahnya, Fatih segera bergegas berjalan keluar kost menuju rumah Murobbinya. Sesampainya di rumah petak yang tak begitu besar, keluarlah seorang laki-laki dengan senyum ramahnya menyambut Fatih.

” Ada apa akhi..?” sapanya ramah. Sambil duduk di teras depan, Fatih pun mulai menceritakan kejadian sore kemaren yang telah membuat galau hatinya. Mata Fatih pun terlihat berkaca-kaca ketika ia mengakhiri ceritanya.

“jadi begitu ya Akhi…hm…hm…susah juga sich “. Murobbinya pun terdiam sesaat dan menampakan dahinya berkerut. “Antum akan melangkah bagaimana selanjutnya ?” Tanya murobbinya.

“gak tau Akhi…segala sesuatu rasanya menjadi tak jelas. Ada perasaan bimbang di hati Ana, tapi juga perasaan kesal. Ada perasaan sedih juga tapi dibalik itu Ana tidak memungkiri ada sebercik pengharapan di saat Ana mendengar pernyataan Aisyah “. ” Ana jadi merasa seperti orang bodoh yang tidak tau bagaimana melangkahkan kaki” .

” Istighfar Akhi…istighfar pada Allah”, agak keras dan menekan suara Murobbi padanya.

“Antum jangan seperti tak ber-asa begitu !”, “ingat… Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’aha ini adalah ujian dr ALLAH sekaligus peringatan dr-Nya utk mengingatkan Antum dlm bergaul, jaga hijab…jaga hijab”.

Lirih suara Fatih menjawab, ” ya Akhi..ya Allah ampunilah hamba. Hamba telah khilaf “.

“Jadi bagaimana Fatih, kalo kecenderungan Antum bagaimana ?”.

Fatih pun menjawab “Ana agak bingung akhi, kalo Ana merespon Aisyah pdhal ada seorang akhwat dlm biodata ini sedang menunggu kelanjutan proses, tapi kalo Ana meneruskan proses biodata ini, Ana takut menyakiti hati Aisyah, dan Ana tidak bisa melakukan itu”

“Antum sayang pada Aisyah ?” tanya Murobbinya agak vulgar.

“eh…hh..tidak tau Akh, Ana punya perasaan bahwa Ana ingin selalu membuat ia tersenyum. Bila ia sedih, Ana selalu tidak tahan untuk tidak menanyakan sebabnya, krn Ana ingin membantu menghapus kesedihannya, ada perasaan haru juga kalo melihat ia sedih”.

“Kalo begitu, Antum sayang itu namanya”, kata Murobbi.“Trus bagaimana Fatih…? Apa keputusanmu ?. Saat ini Ana tidak dapat memberikan nasehat pd Antum selain – Luruskan kembali Niat Antum utk menikah. Ingat dalam surat Al-Baqarah 216 Allah mengatakan … Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Sesaat Fatih merenungkan kembali makna ayat tersebut….”Insya Allah izinkan Ana untuk sholat istikharah dulu Akhi…” pinta Fatih.

” Tafadhal Akhi…semoga Allah SWT senantiasa memberimu pentunjuk-Nya.”

 

Tiga malam berturut-turut kemudian, Fatih lebih getol ber-taqarrub pada Allah SWT.

” Ya ALLAH, hamba serahkan nasib dan takdir hamba kepada-Mu. Tapi izinkan hamba meminta pada-Mu Rabb, Pilihkan hamba seorang pendamping yang dapat menjadi Qurrata a’yun, seorang akhwat yang mampu membangkitkan semangat jihad hamba dalam dalam mengarungi medan kehidupan ini. Seorang hawa yang tak pernah lupa mengingatkan hamba untuk selalu berjalan diatas di jalan-Mu.”” Seorang Istri jika hamba memandangnya akan mengingatkanku pada Engkau ya Rabb….tidak…tidak…malah membuat hamba menjadi lebih bersedih dan tidak bersemangat”.

” Ya Rahman…hamba serahkan hidup matiku untuk-Mu, maka pilihkanlah teman sejati yang juga sanggup berkorban demi mencintai-Mu…”, derai airmata ikut membasahi sajadah tempat Fatih bersujud mengadukan kegalauan hatinya pada Sang Maha Penggenggam hati manusia, Allahu Ar-Rahman, Yang Maha Penyayang.

 

Siang yang tak begitu terik setelah hujan mengguyur sesaat di pagi harinya. Fatih terlihat menunggu di koridor timur Masjid Salman bersama dengan rekan kampusnya, Hafidz.

 

” Apakah sudah Mantap keputusan Antum ?” tanya Hafidz padanya.

” Insya Allah siap akhi, Bismillahi tawakkaltu alALLAH”, terdengar mantap suara itu dari mulut Fatih.

” yach..Ana juga bantu do’akan Antum, sekali melangkah..jangan mundur lagi kalo memang itu untuk Ridlo Allah, faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alALLAH ..”

” Insya Allah…” terputus kata-kata Fatih, saat dilihatnya dua orang akhwat menghampiri mereka.

Mereka Aisyah bersama teman akhwatnya.

“Ass.Wr.Wb. kakak “, ” ada apa kak pengen ketemu Aisyah ?” sambil tersenyum ia bertanya pada Fatih.

” Wa’alaikumussalam Ukhti…Ana ada titipan surat nich”

” dari siapa kak ? “

” dari Ana, ini tentang progress proses qta. Afwan tidak bisa mengatakan langsung”, kata Fatih agak pelan

” gpp kok kak, Aisyah malah lebih senang begini, jadi Aisyah gak keliatan kalo malu”.

” iya Ukhti..afwan kabbir … Kakak pamit dulu ya.”,  “Assalaamu’alaikum….”

Kebingungan dengan sikap Fatih…tetapi dengan terpaksa juga Aisyah menjawab “Wa’alaikumussalam Wr.Wb.”

Aisyah pun saling berpandangan dg temannya, bingung. Seakan-akan ada perasaan bahwa itu adalah perjumpaan terakhir ia dengan kak Fatih, seakan-akan ada suatu batas yang tidak mungkin ditembus, dan sejuta perasaan aneh lainnya. Tapi Aisyah tetap tidak bisa menduga, hanya perasaan asing menghinggapi sanubarinya.

” Jadi begitu Akhi..Antum mau meneruskan proses dg biodata yang Ana berikan ?”, tanya murobbinya.

” Insya Allah akh, do’akan ya” balas Fatih padanya

” Lalu bagaimana dengan Aisyah ?” tanya lagi Murobbi

” ALLAH yang akan menjaganya Akh !”, mantap jawaban Fatih, seakan-akan keluar dr keyakinan hati.  Ya itulah iman, keteguhan iman Fatih pada Rabbul ‘Izzati sang Khaliq.

” Apakah Aisyah bisa menerimanya Akh ?” tanya Murobbi lebih lanjut.

Fatih-pun menjawab,” Lewat surat akh…Ana berikan pernyataan Ana lewat surat. Insya Allah itu penjelasan yang cukup. Intinya bahwa Pilihan Cinta Ana adalah Ana lebih mengharapkan Cinta dari Allah, Sang Maha Pemberi yang mengkaruniakan cinta pada makhluq-Nya.”.

“Barakallah Akhi…semoga ALLAH membarokahi langkah Antum”, do’a Murobbinya.

Di belahan bumi yang lain, Aisyah penasaran ingin membuka surat dr Fatih. Ia merasakan ada sesuatu  hingga Fatih memberikan surat padanya. Bergegas ia masuk ke ruangan kesayangannya, tempat ia berkarya menyusun program-program kerja organisasi yang dijalankannya bersama Fatih.

Dengan hati  harap-harap cemas aisyah membuka amplop surat itu diiringi dengan lafal “Bismillaahi Laa Yadhurru Ma’asmihii Syai-un Fil Ardhi Wa Laa Fissamaa-i Wahuwassamii’ul ‘Aliim” .

Sorot matanya tajam menyimak kata demi kata demi memahami maksudnya yang tersurat. Sesaat Aisyah memfokuskan diri sekali lagi pada suatu kalimat yang ia pahami bahwa FATIH TIDAK BISA MELANJUTKAN PROSES DENGAN DIRINYA…..

Hanya ucapan ‘Innaalillaahi Wainna Ilaihi Rooji’uun’ mengiringi kekecewaan dan sederet perasaan yang tak menentu dalam hatinya.

“Mungkinkah….? Ya Allah….!!!” ucap Aisyah lirih seketika.

Tak kuasa ia membendung air mata yang mengalir di pipinya mengawakili perasaan sedih yang mendominasi hatinya…..

Hening…..Kemudian ia mengambil buku diary kesayangannya, tempat ia menuangkan segala isi hatinya di luar waktu-waktu sholatnya.

Diary….sungguh kenyataan yang harus kuterima ini begitu pahit, begitu menyakitkan dan begitu mengguncangkan qolbuku. Selama apapun tarbiyah yang kudapati dari Murobbiyahku, sebanyak apapun buku-buku harokah yang telah kubaca dan sesering apapun keterlibatanku dalam kerja-kerja dakwah, tetap saja tidak bisa menghalangi sisi fithrah kewanitaanku yang lemah, butuh kasih sayang dan pengertian ini, I just A women, hanya seorang akhwat yang fithrahnya senang diperhatikan, suka dihargai dan yang terpenting lagi aku sangat suka bila diri ini dibutuhkan….

Akh Fatih kenapa kau biarkan diri ini berharap, mengapa kau beri waktu diri ini berfikir kalau kau butuhkan sebagai pendamping, sebagai manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain, bagi mu… Teganya kau, kenapa tak segera kau beri tahu saja aku segera, dan sesegera mungkin ketika kau tersadar akan kekhilafanmu… sehingga tidak memberi peluang bagi diri ini untuk memikirkan pembenaran atas sikapmu yang mengkhitbah aku.

Adilkah ini? Apakah wanita sudah kodratnya menjadi pihak kedua dalam sebuah perjanjian hidup? pihak yg selalu dinomorduakan atas suatu keputusan penting?…..

“Astaghfirullah…. sudah adzan Dhuhur”, waktu terasa amat cepat berlalu sejak pagi tadi ia berjumpa Fatih, Aisyah teringat terakhir kali ia menghadap Robb-Nya yaitu saat sholat Dhuha sebelum ia bertemu Fatih.

Bergegas Aisyah pergi ke kamar mandi. dibasuhnya muka membersihkan atsar-atsar air matanya.

Khusyyuk…. Aisyah mengakhiri ritualnya dengan berdo’a kepada Sang Maha Penggenggam jiwanya:

“Ya Robii… Ampunilah kekhilafan hamba, maafkan kelemahan diri ini dalam menjaga kesucian cinta yang seharusnya kupersembahkan kepadaMu.

Ya Allah Yg Maha Membolak-balikan hati, tetapkan hati ini pada agamaMu, pada kesucian cintaMu dan hanya kepada syari’atMu.

Ya Allah Ya Qowiyy… kuatkanlah hamba dalam menghadapi ujian ini, berilah hamba kekuatan agar dapat melaluinya dengan penuh keta’atan dan ketundukan kepadaMu.

Ya Allah Ya Waduud… berikanlah hamba pengganti yang terbaik bagiku, seorang suami yang mencintaiku karena Mu, yang tidak berkurang cintanya kepadaMu, yang bisa membawaku ke jalan menuju Ridho dan cintaMu… Amiin Allahumma Amiin”

Dan… Aisyahpun menutup Diarynya…..

Diary…., Diary…. Diary…..

udahan ah diary… Ishah cape nih

– = SELESAI = –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: