Skip to content

[Cerpen] Pilihan Cinta – Bagian 1

January 8, 2010
tags: ,

Kontributor: Idris Eko Putro

April 24, 2006 (Revised by Aisyah Putri on May 05, 2006)

Fatih masih khusyuk dalam sujud qiyamul-lailnya, bermunajat dengan segenap hati. “Ya Allah, Engkaulah yang Maha Mengetahui segala sesuatu di hati hamba. Engkaulah yang menetapkan takdir hamba, oleh karena itu ya Rabb, tetapkanlah yang terbaik bagi hidup hamba, dan bagi cita-cita pernikahan hamba ini”. . …. Fatih sangatlah takut jika pilihan untuk menikahnya didasarkan bukan karena Allah semata.

” Aisyah insya Allah menerima tawaran kak Fatih untuk menikah … “, . Akhirnya keluar juga keputusan yang sangat ditunggu-tunggu oleh Fatih untuk mengajak Aisyah menikah.

Aisyah adalah teman organisasi Fatih di salah satu yayasan sosial di Bandung. Mereka telah bertahun-tahun menjadi rekan kerja sekaligus rekan seperjuangan dalam membantu sesama.

Di akhir masa studinya, Fatih sudah ber’azzam untuk menikah. Hal itu sudah ia ungkapkan melalui murabbinya, dan alhamdulillah beliau bersedia memberikan beberapa pilihan.

“Tapi, ana merasa ingin menikahi Aisyah Akhi. Selain karena keinginan menikah, saya memilihnya karena kami sudah sering ber-interaksi dalam kegiatan, jadi kami telah saling mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing”, kata Fatih saat Murobbinya mempertanyakan lebih lanjut ‘azzamnya.

” Kalo Antum sudah punya kecenderungan, insya Allah niatkan menikah karena Allah dan khitbah Ukhti Aisyah itu “, timpal Murobbinya. “Insya Allah, do’akan ana Akh…”.

Dua hari kemudian.

” Astaghfirullah kakak ?!”, setengah teriak Aisyah kaget dengan pernyataan dihadapannya. Seorang ikhwan yang sudah ia anggap sebagai kakak layaknya kakak kandung saat ini telah mengungkapkan keinginannya untuk menikahinya.

“Kakak sadar enggak sich, kak Fatih telah melamar Aisyah ?!” .

“iya, kakak memang meng-khitbah Aisyah untuk menjadi istri kakak, bersama-sama untuk membentuk mahligai cinta yang dihalalkan oleh Allah SWT, saling mendukung dan berinteraksi tidak hanya sebatas rekan kerja tapi juga sebagai teman sejati dalam perjuangan membentuk keluarga muslim sejati.”

” Aisyah tahu misi pembentukan keluarga kak Fatih, Aisyah juga paham Rasulullah saw mensunnahkan untuk menyegerakan menikah, tapi yang Aisyah tidak mengerti…mengapa Aisyah yang menjadi pilihan kakak ?! “ .

Fatih menangkap sebersit nada kekecewaan pada suara Aisyah. ” Memangnya ada yang salah dengan pilihan kakak ?”.

“Qta sudah lama saling kenal, kakak ingin menikah, dan kakak pikir alangkah lebih baiknya seandainya interaksi kita dilegalkan dalam pandangan Allah dengan terikat dalam ikatan yang suci “.

” iya…tapi ini pernikahan lho kak, bukan ikatan main-main !!” .

“Siapa yang main-main, justru kalo kita masih tetap berinteraksi seperti ini, Aiysah tetap suka curhat ke kakak, kakak juga suka terlalu mengkhawatirkan Aisyah …. itu malah menurut kakak…, kita telah main-main dengan kehidupan kita !!. Banyak bahaya yang akan menimpa kita, hijab akan lebih terlanggar, perasaan akan lebih mengarah ke zinah hati, belum lagi di akhir episode perkenalan kita…kita akan saling menyakiti tanpa kita sengaja.”

Sambil menghela nafas sesaat, kemudian Fatih melanjutkan ucapannya “untuk itulah kakak memilih Aisyah, selain karena kita telah saling mengenal, kakak juga ingin menjaga agar interaksi kita tidak salah arah.”

“berarti kakak merasa telah salah arah !Aisyah tidak pernah terpikirkan untuk menikah dengan rekan organisasi, bahkan dengan kakak sekalipun. Kalo emang kakak takut dengan interaksi kita, lebih baik kita menjaga jarak dari sekarang, atau lebih baik tidak usah bertemu lagi” , balas Aisyah dengan sengitnya.

“Memang kedepannya kita bisa menjaga jarak, kita juga bisa menjaga intensitas pertemuan ini”, sambil menurunkan tekanan suaranya, Fatih melanjutkan, “tapi kakak telah menetapkan pilihan hidup, dan pilihan itu bernama Aisyah.” Lirih ia melanjutkan, “mungkin pilihan ini tidak murni dari kelurusan hati, sebab kakak juga telah terlanjur punya perasaan ke Aisyah, jadi tolong… pikirkan aja dahulu lamaran kakak ini”.

“Tidak mau…Aisyah tidak mau memikirkannya…kakak telah mengkhianati kepercayaan Aisyah selama ini ” , sambil terisak, Aisyah berlari meninggalkan Fatih yang berdiri terpaku.

Sejak saat itu, sudah hampir dua bulan tidak ada kabar dari Aisyah. Jawabanpun belum terlontarkan membuat Fatih dirundung gelisah.

“Ya Allah apakah hamba salah dalam melangkah menetapkan pilihan teman sejati ?”. ” Engkau Lebih Tahu ya Rabb, bahwa tidak ada hubungan se-erat kakak-beradik bila kita bukan se-mahram.”

Hati Fatih menjadi bimbang untuk meneruskan proses khitbah lebih lanjut. Apalagi kabar yang ia dengar dari teman-teman Aisyah, bahwa Aisyah sangat terpukul dengan kenyataan ini. Aisyah hanya membutuhkannya sebatas seorang kakak yang bisa dimintai pendapat dikala bingung, menjadi penyemangat dikala lemah, menjadi teman diskusi dalam lingkup kerja.

“Sudahlah Akhi…sudahi saja proses Antum, ini sudah tidak ahsan lagi untuk diteruskan !!”, Murobbi mengingatkan. “kalo Antum ingin menikah, masih banyak akhwat lain yang siap dan bersedia” , “Antum coba luruskan kembali niat untuk menikah dan coba jawab pertanyaan ini : Antum ingin menikahi seseorang, atau Antum ingin menikah ?” , tanya murobbi padanya.

“Apa bedanya Akh ?” tanya balik Fatih tidak mengerti.

“Ya jelas beda dong. Kalo Antum ingin menikahi seseorang, berarti Antum ingin menikah dengan si Fulanah. Bila tidak dapat menikah dengan Fulanah berarti Antum tidak jadi menikah.”

“Tapi bila Antum ingin menikah…berarti Antum siap untuk menikah dengan siapa saja yang Allah pilihkan untuk Antum, karena itu yang terbaik bagi Antum. Tidak ada masalah Antum menikah dengan siapa saja, tetapi yang penting bagi Antum adalah Antum dapat menikah, membina ikatan suci karena Allah dan karena sunnah Rasul-Nya, karena ingin menggenapkan setengah Ad-Dien Antum, karena ingin melanjutkan perjuangan dakwah ini melalui amal jama’i yang dibentuk oleh anggota keluarga…..jadi jelas beda Akhi !”, sambil tersenyum bijak sang murobbi mengakhiri penjelasannya.

“yahh….aku harus meluruskan kembali niatku untuk menikah”.

Hari-hari selanjutnya, Fatih kembali tenggelam dalam sujud-sujudnya di malam yang dingin. Fatih ingin lebih mendekatkan hatinya dengan Sang Penggegam hati manusia. Fatih tidak ingin niat lurusnya untuk menikah terhambat oleh sedikit perasaannya pada seorang wanita karena tipu daya syaithan.

Hinggalah saat ia menerima biodata yang disodorkan oleh murobbi, biodata berisi data seorang akhwat yang insya Allah siap untuk menjalankan proses pernikahan.

“insya Allah ana tsiqah pada antum, ana yakin Antum akan mempertimbangkan biodata ini dengan baik dan dengan niat menggapai Ridlo Allah. Jadi ana tunggu kabar dari Antum” .

Fatih pulang ke kost dengan hati riang dan rasa bersyukur pada Allah SWT. “ya ALLAH tinggal sedikit lagi hamba menuju ambang pernikahan. Semoga tidak ada yang menghalangi hamba untuk menikahi akhwat yang tersembunyi di dalam gulungan kertas biodata ini, jika memang ini adalah calon terbaik yang Engkau kirimkan pada hamba”.

 

Sesaat Fatih meletakkan tasnya di atas meja, tiba-tiba suara telepon genggamnya berbunyi.

Tanpa memperhatikan ID Callers dari panggilan tersebut, ia langsung berseru, “Hallo, Assalamu’alaikum…Fatih speaking here…”.

“Wa’alaikumussalam Wr.Wb. .. kak Fatih… ini Aisyah…apa kabar ?”

ternyata Aisyah yang menjawab salam Fatih tadi. Jantung Fatih berdetak kencang, rasanya ada suasana yang dulu serasa akrab tapi telah lama hilang, dan sekarang suasana itu terdengar akrab kembali liang-liang telinganya.

” eh…iya…eh…Alhamdulillah bi khair. i..ini dek Aisyah ya ?!” tanyanya setengah tak percaya.

” iya…siapa lagi kak, kakak sudah lupa dengan suara Aisyah ya ?!”, terdengar suara nyaring dan manja yang menjadi khas suara teman yang dulu pernah menghiasi hari-harinya.

” hi.hi.hi…enggak, gak lupa kok…tapi ada apa ya ? udah lama gak ada kabar ?” Setelah dapat menguasai diri, akhirnya Fatih dapat berkomunikasi dengan lancar.

” gini kak….eh…Aisyah insya Allah menerima tawaran kak Fatih untuk menikah … “.

“….!!!….”.

Seperti ada halilintar di sore yang cerah ini. Rasanya ruangan kamar kost Fatih menjadi berputar-putar ketika ia mendengar jawaban yang sebenarnya telah ia tunggu sejak lama . Kata-kata jawaban yang saat ini telah ia ikhlaskan pada Allah untuk dilupakan. Tapi saat ini kata itu muncul di saat ia sedang mempertimbangkan biodata akhwat yang diberikan oleh murobbinya. Pernyataan aisyah itu menjadi kata-kata terakhir yang Fatih dengar pada hari itu darinya, karena setelah itu tanpa terasa jempol kiri Fatih menekan tombol END CALL hingga selesailah percakapannya dengan Aisyah tanpa menyelesaikan inti pembicaraanya.

(bersambung di bagian ke-2 : click on it)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: