Skip to content

Wisnu SP: Bahaya yang bernama “Sensor Film”

January 6, 2010

Kontributor: Arief Yudhanto

Wisnu Surya Pratama, a.k.a Wisnu Kucing, adalah alumni SMASA 96. Wisnu dulu masuk ke kelas 1.5, kemudian Bio2 hingga lulus SMA. Ketika SMA Wisnu aktif basket dan MPA (Majelis Pemusyawaratan Kelas). Setelah SMA, Wisnu melanjutkan kuliah Sastra Belanda di Universitas Indonesia. Di samping kuliah, Wisnu juga aktif menyuarakan hak-hak rakyat lewat demonstrasi. Kini Wisnu aktif di bidang perfilman.

Film pendeknya Kucing 9808: Catatan (Mantan) Seorang Demonstran diputar di pelbagai festival film internasional, seperti Singapore Short Film Festival 2008, Pusan Film Festival di Korea dan di Spanyol tahun 2010 ini.

Film Kucing 9808: Catatan (Mantan) Seorang Demonstran

Kucing 9808 menceritakan sebuah kejujuran: transformasi dari seorang pemimpin demonstran yang lantang meneriakkan “Siap melawan tentara?!” menjadi seorang ayah. Sepak terjang ini membahas masalah identitas, insiden dan perubahan politik. Proses demokrasi tidak pernah berhenti, malah harus diturunkan. Wisnu mirip representasi “revolusi berakhir di umur 30”. Dari bermandi keringat berdemonstrasi demi perubahan tahun 1998, hingga mengganti popok bayi perempuannya di tahun 2008. Setidaknya setiap orang harus realistik melihat dirinya: makan apakah aku esok hari?

Mengapa Wisnu berpindah kuadran dari bidang sastra ke perfilman? Berikut petikan wawancara Blog SMASA96 dengan Wisnu:

1) Dulu kuliahnya Sastra Belanda, tetapi mengapa berpindah ke perfilman?

Sebetulnya hasrat untuk suka sama film sudah dari kecil. Pas SMA banyak nonton film dan pengen bikin film tapi informasi tentang film study dan perkembangan film di Indonesia minim. Walhasil nasib UMPTN membuat daku terperosok untuk belajar bahasa kumpeni. Tapi pengetahuan tentang film justru didapat di fak. sastra. Pas kuliah aku ambil banyak mata kuliah yang berhubungan dengan film, karena memang kritik dan resensi film termasuk dalam kajian budaya. Waktu itu daku ambil kuliah Pengantar Kajian Cinema. Kuliah ini memberi dasar pengetahuan tentang film termasuk macam-macam shot, struktur produksi film, penggalan-penggalan screenplay yang harus dikaji. Terus dilanjutkan dengan kuliah-kuliah kayak kritik sastra dan film, kajian sastra bandingan, kajian film belanda, sejarah seni dan film. Setelah lulus terjun ke dunia jurnalistik seperti kebanyakan lulusan sastra. Selain itu aktif juga di Yayasan Konfiden, sebuah yayasan yang peduli pada pengembangan film indie dan kompetisi film pendek. Terus mulai ikutan produksi film dokumenter. Akhirnya resign dari kerjaan jurnalis dan lebih konsen ke film. Pertama kerja di film adalah magang di sebuah PH yang bikin iklan. Kerjaannya segalanya… mulai dari administrasi berkas2 ampe bantuin bikin kopi dan teh buat kru. Tapi untuk yang bener-bener kerja ya pertama di PH namanya Apokayan, sebagai researcher untuk film dokumenter dan assistant director. Terus sebagai production assistant di feature film Long Road to Heaven produksi Kalyana Shira film, Assistant director untuk feature film yang dibuat Save The Children. dan seterusnya lebih banyak kerja sebagai production assistant atau assistant director.

2) Film apa saja yg pernah dibuat, dan akan dibuat?

Film yang pernah dibuat, lebih banyak film untuk komersial dan pendidikan. Pertama kali sebagai sutradara itu bikin film tentang domestic violence buat UN (PBB). Terus kedua kalinya bikin video klip seorang penyanyi bernama Abdul, kemudian bikin documentary film tentang suku anak dalam di Jambi, dan sekarang bikin beberapa TV commercial (iklan) dan bumper, a.l Indosat, Nivea, Ajinomoto, Aora TV, Olimpiade Beijing 2008, dan Channel V. Semua film gua awalnya adalah pesanan dan akhirnya di tahun 2008 gua bikin my first self funded film dokumenter, sebuah biopic, tentang diri sendiri berjudul, Kucing 9808, Catatan (mantan) Seorang Demonstran. Film ini bagian dari antologi 9808 untuk memperingati 10 tahun reformasi.

3) Biasanya, film-film Wisnu mengajak orang berpikir seperti bagaimana? Atau apa tujuan dari filmnya?

Biasanya, kalau yang pesanan LSM kayak Save The Children atau PBB pastinya ya memberi edukasi tentang persoalan tertentu dalam masyarakat, misalnya kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan, emansipasi dll. tapi kalo yang tv commercial yah mempengaruhi orang untuk konsumtif hehehehe… Sebenarnya sekarang dalam proses ingin membuat seri biopic, sebuah bentuk film yang merekam sejarah personal orang, karena menurut saya setiap sejarah seseorang pasti berpengaruh atau terpengaruh sebuah sejarah dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Istilahnya catatan kecil itulah yang bikin catatan besar.

4) Bagaimana kondisi perfilman di Indonesia? Apa yg perlu ditingkatkan?

Kondisi perfilman sekarang, menghadapi sebuah bahaya besar bernama sensor dan undang-undang perfilman. Sensor ini adalah sebuah alat untuk memasung informasi dan kemerdekaan berpendapat yang dijamin oleh undang-undang dasar, karena banyak kejadian akhirnya lembaga sensor hanya kepanjangan rezim politik untuk membendung informasi bukan untuk mencegah pornografi. Istilahnya kalau jari yang luka ya diobati bukan dipotong tangannya. Undang-undang film termasuk salah satu dari upaya pengebirian kebebasan berpendapat, mulai dari pertama anda bikin film anda harus kasih sinopsis dan script kepada pemerintah. Judul pun dikontrol. Ini yang sangat bahaya. Jadi rezim penguasa ini pada masa akhir jabatannya yang lalu mengeluarkan paket undang-undang yang memasung kebebasan berbicara, a.l: UU Rahasia Negara, UU Tipikor, UU Film, UU ITE. Jadi ketika kebebasan berpendapat itu dilindungi di UUD dan UU pers, tapi disekitarnya dikasih ranjau berupa UU tersebut. Kalau dari industrinya sendiri perlu dipikirin masalah distribusi dan guild untuk pekerja film berdasarkan profesi.

5) Sebagai orang Jember, apa yang menarik dari kota itu untuk sebuah film?

Yang menarik di kota Jember, alamnya… dan masyarakat. Masyarakat jember yang egaliter dan terbuka sangat menarik untuk divisualkan, termasuk dialek jember-an yang gabungan jawa-madura… eksotis.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: