Skip to content

Jember: Sebuah Definisi

January 6, 2010

Kontributor: Amrullah Hakim

Dulu, ketika masih datang ke pengajian Gus Yus tiap Jumat pagi, ada pembicaraan tentang arti nama Jember dan usulan untuk mengubah nama kota Jember menjadi Jembar. Katanya Jember itu berasosiasi dengan kata becek (musim hujan di Jawa mulai pada bulan September, dan orang Jawa menandainya dari bunyi “ber” pada kata belakang bulan tersebut, misal desember = gede-gedene sumber).

Dari sini, saya memahami bahwa pada saat itu ada “ketidakmapanan” struktur sosial orang Jember, yang kalau saya amati lebih jauh, kota ini adalah kota mini kosmopolitan, karena sebagian penduduknya adalah pendatang. Ayah-Ibu saya bukan asli Jember, bahkan pembantu saya yang sudah lama ikut saya adalah orang Banyuwangi. Dan saya lahir juga bukan di kota Jember tapi di desa Rambipuji. Gejala lainnya: bahasa Jember, yang memang unik, campuran dari beberapa logat dan campuran dua bahasa: Jawa dan Madura, saya belum tahu jika Osing juga berasimilasi di sini.

Seiring dengan laju pembangunan dan ekonomi, penduduk kota ini bergeliat. Informasi yang lebih baik, menjadikan kesuksesan baru bagi generasi mudanya. Semakin banyak generasi yang sukses secara keilmuan dan keekonomian, sebagian karena mereka lebih berani untuk merantau (meneruskan tradisi orangtua-nya yang juga dulu merantau di Jember), sebagian lagi juga bisa lebih sukses dengan berani mencoba sehingga berpengalaman sangat baik di bidangnya. Dan menurut saya, pertumbuhan ini melesat tinggi, sehingga muncul “kemapanan” baru di struktur sosial orang Jember.

Kini, orang Jember akan lebih bangga untuk menunjukkan jati dirinya sebagai orang asli Jember, baik saat dia di Jember atau saat dia di daerah lain. Saya sendiri akan merujuk ke beberapa orang yang nge-top dan dia adalah orang Jember ketika memperkenalkan Jember ke orang lain: Anang, Dewi Persik, Gus Yus, Nadine Chandrawinata, dan yang terakhir Sujiwo Tejo (tulisan dia di Kompas, Sabtu 5 Desember 2009 tentang “Ilmu Tak Tertulis Suatu Abad” sangat bagus). Kekaguman saya juga terus berlanjut kepada teman-teman sekelas di SMA 1 Jember, yang bisa sukses di bidangnya, bisa “menaklukkan” universitas di luar negeri dan bekerja dengan sangat baik di sana, beberapa yang lain bisa mengembangkan usaha mandiri yang berhasil dan banyak lagi.

Pendek kata, saya bangga bisa lahir di Jember (Rambipuji tepatnya), hidup di Jember, beromantisme dengan “Jember” adalah saat-saat yang surgawi bagi saya. Insya Allah, nilai-nilai kebaikan yang tertanam kuat dari masyarakat kota ini bisa terus tumbuh subur dan menjadikan generasi mudanya, terutama generasi yang lulus SMA 1 di tahun 1996 menjadi generasi pemimpin dan bermanfaat bagi sesama. Amin

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: